Showing posts with label Me..and Me time. Show all posts
Showing posts with label Me..and Me time. Show all posts

Tuesday, May 3, 2011

Me, from the eyes of an American pal

Freedom to Choose

Choices in life can be difficult, and Danielle has had her fair share of them. After 13 years working in the Entertainment industry and hobnobbing with the rich and famous, Danielle has made the complex decision to settle down. In her own words, she has gone into “hibernation,” exchanging the bright lights and big city for rain and darkness in a small town south of Amsterdam. This departure has allowed her husband to focus on developing his career and Danielle to raise her two small children and dedicate herself to writing her debut novel.

Danielle is sitting in front of me; petite, composed, confident and direct. The story she just described is not unlike the situation countless other professional women in dual career households are faced with. But there is one other choice that makes her different. This is potentially a more risky choice than leaving a successful career and loving friends to move to a foreign land. Danielle has chosen to wear a hijab.

I come from a country that has declared a War Against Islam. Some extremists back home would have me believe that Danielle is dangerous – associated with terrorists - simply because she wears a soft, jade colored scarf around her head that is fastened with a small gold pendant.

I think that is ridiculous and it is easy for me to dismiss; I’m not surprised that my insular country would make ignorant stereotypes. But as I listened to Danielle in quiet astonishment, what was more difficult for me to accept is the realization that she is the first practicing Muslim I have ever discussed the purpose of this prominently worn scarf with. It made me wonder about my assumptions. And although I didn’t want to believe it, I not only had assumptions, but judgments, about why the scarves were worn. I believed they were used to demonstrate modesty and deference, and as a feminist, I couldn’t support it. But Danielle was about to firmly put my ignorant assumptions in their place.

Danielle happily explained to me why she chose to wear a hijab – and it was a decision she made later in life after she had children. In Danielle’s words, wearing a hijab is “a simple way to be who I am.” It is a way for her to remember to focus on her true, internal self and not the external, physical aspect of being human. Her hijab is a symbol of her commitment to improving and learning as she goes through the journey of life. It has nothing to do with silencing herself and everything to do with evolving into a stronger person.

As I looked at Danielle: Woman, Mother, Writer, Wife and Wearer of Hijab, I had a new found admiration for the scarf neatly tucked around her smiling, confident face. I now understood the very different meaning it has for her versus my uneducated assumptions and why this choice was crucial in supporting the accomplished woman sitting before me.

************************************************************

The piece above was written by Christy Mommsen during Writing nonfiction class in Amsterdam Writing Workshop in last March. Though the name was changed into Danielle, everybody knew who it was in the story, as I was the only one who wore hijab. It was Lisa Friedman, the teacher, who delivered the story so good that everybody was on silent, capturing word by word she read. And I couldn’t help to weep during that session :). Thank you Christy for your beautiful writing.

Today marks a year for me as hijab wearer. Life has been so remarkable. Meeting new people with varied and valued background is like tasting some flavors of ice cream rich with toppings on it. It is sweet, smooth, sometimes sour, yet I’m always tempted to lick it.

About the book that I write, Yes! finally it’s just done couple days ago. *yay*. I know there are so many roads to go to realize my dream. But at this moment, I just want to thank myself and enjoy this accomplishment. If I’m lucky, a publisher may be interested in publishing it. Or If it’s not, I will just keep it and present it to my children someday. So they will know that their mother, with joy and fear, putting word by word into a sentence. And sentence by sentence into a story.

Tuesday, September 23, 2008

Sale Sale Sale

Teman di kantor mengumumkan adanya sale gede-gedean. Serta merta kami yang sensitif dengan kata sale menyambut dengan suka cita. Maka meluncurlah kami belima, empat ibu ‘brisik’ dan satu pria yang ‘brisiknya’ melebihi para ibu-ibu tersebut dengan sebuah taxi ke kawasan Sudirman. Begitu masuk ke lobby gedung tempat berlangsungnya sale, kami sudah disambut dengan bejibunnya orang yang siap naik ke lantai 26.

Setelah menunggu sesaat, kami pun masuk ke bilik lift yang langsung dijubeli orang-orang. Begitu keluar, alamak, hampir kami tidak bisa keluar lift karena tertahan oleh orang-orang yang berdiri didepan lorong lift. Ada apakah gerangan ? Rupanya di lantai 26 itu orang-orang sudah berduyun-duyun antri untuk masuk ke ruangan sale. Satu teman yang sedang hamil memutuskan untuk tidak ikut masuk karena takut berdesak-desakan. Ya sudah. Akhirnya tinggal kami berempat berjibaku berdiri dalam antrian. Merambat sedikit demi sedkit. 15 menit berlalu, akhirnya giliran kamilah masuk.

Lebih alamak lagi, rupanya suasana didalam tidak kalah heboh. Puluhan orang bersemangat mengaduk aduk kotak tas, sepatu, ikat pinggang. Baju-baju aneka model yang tergantung. Belum deretan jam tangan beragam bentuk yang berjejer dalam kotak kaca. Saya langsung mengarahkan pandangan ke bagian pakaian anak-anak. Celana panjang, ya saya mencari celana dan kaos untuk Bagas dan Sekar. Aduk punya aduk, rupanya saya tidak mendapatkan apa yang saya cari. Ukuran yang besarlah. Harga yang masih dalam bilangan ratusan ribu deh (meski judul diskonnya up to 70% sale).

Peluh sudah menggerumbul di dahi. Kepala sudah berat sebelah alias migraine. Saya sudah tidak tahan, dan yang lainnya pun ternyata sama. Akhirnya kami menyerah. Kami memutuskan keluar. Seorang teman yang bermaksud membeli satu buah tas, terpaksa mengurungkan niatnya setelah melihat antrian di kasir yang ajubilee. Jadi dengan tangan hampa kami pulang.

Meski sedikit kuciwa, ada perasaan lega. Karena terhindar dari aksi impulsive untuk berbelanja. Kalau tidak terjaga, uang THR bisa menguap entah kemana. Padahal masih banyak pengeluaran yang menuntut segera untuk ditunaikan. Kiriman buat orang tuan, gaji tahunan, bonus dan ongkos mudik si mbak, zakat mal, dan banyaaaak lagi.

Friday, September 19, 2008

Satu Kata Untuk Saya

Seorang teman mengirimkan YM kepada saya isinya adalah sebagai berikut:

"Teman...gambarkan aku dengan 1 kata. hanya 1 kata. Kirim jawabannya padaku lalu kirim pesan ini ke teman2mu dan lihat jawaban aneh dan mengagumkan tentangmu. Bales ya, karena ini sangat seru"

Hmm saya menulis apa ya terhadap si teman ini. Saya pun langsung tuliskan, calm. Ya pembawaannya memang kalem, itulah gambaran umum tentangnya.

Wah saya jadi tergelitik untuk meneruskan pesan itu ke teman-teman di YM, Sreet, dalam sekejap instant message pun terkirimkan. Wah jawaban apa ya yang bakal saya terima. Dag dig dug jadinya. Dan dalam hitungan detik, jawabannya pun langsung berdatang. Mau tahu jawabannya apa ?

Jawa
Majalah
Manis
Baik
Brave
Simple
Kreatif
Optimistic
Keukeh
Lembut

Ada tiga jawaban untuk kata Jawa. Saya pun merespon salah satu pengirim kenapa dia mengirimkan kata jawa. Dari cara ngomongnya jelas berlogat jawa, katanya. Hmm, keberadaan saya sebagai orang Jawa totok memang tidak bisa dibasuh-basuh meski sudah belasan tahun bergulat di kota Jakarte ini.

Yang menarik, teman yang menjawab majalah. Kenapa ? Karena ruanganmu penuh dengan tumpukan majalah. Saya pun terkekeh. Namanya juga Media Director. Sebuah jabatan yang saya tasbihkan buat saya sendiri, biar kelihatan keren.

Keukeh ??? Jawaban ini saya terima dari bos saya. Mungkin saya persistent kalau sudah ada maunya kali ya.

Dari semua instant message yang saya kirimkan, ternyata saya belum terima jawaban dari suami. Setelah didesak, dia beralasan bahwa tidak bisa menulis hanya satu kata saja. Setelah didonder, akhirnya dia pun menyerah.

Mau tahu jawabannya ?

“Nggemesin!”

Halah….


Anyway, terimakasih buat teman-teman yang sudah berpartisipasi dalam kuis tidak penting ini. Tapi sangat membantu menghilangkan kantuk di siang Ramadhan.

Saturday, May 24, 2008

Gotta love what you do !

Kamasutra Jakarta, 21 Mei 2008

Pria didepanku masih mondar mandir seperti setrikaan. Dua handphonenya silih berganti berdering. Sembari mulutnya menyerocos membahas tentang sebuah kontrak iklan, matanya tetap lekat menatap kerumunan orang-orang yang duduk didepannya. Ya kerumunan para kru infotainment yang sedang wawancara grup band yang menjadi anak didiknya. Sesekali tangannya memberi arahan kepada asistennya. Sibuk dan kelihatan bener ribetnya. Itulah profesi yang disandangnya selaku manager yang membawahi belasan artis, mulai dari artis sinetron, model, penyanyi, presenter.

Sementara aku menatapnya nyaris tanpa kedip. Yah menatapnya dengan pandangan takjub.

"Om J, elo ga ribet ngurusin semua tetek bengek ini,?"

tanyaku saat dia sudah menuntaskan pekerjaannya dan nyantai merebahkan dirinya di sofa.

"Enggak lah bo ! Asal lo ngelakuinnya dengan cinta, pasti deh segalanya jadinya enteng. Kalau dibayangin emang keliatannya ribet, tapi kalau pakai ini (sambil nunjuk dadanya), segalanya enteng…teng. Kita ngelakuin kegiatan ini dengan hepi, dengan passion, udah senang dapat duit pula."

Belum sempat mulut ini terbuka untuk menimpali, mulutnya langsung nyerocos lagi.

“Asal lo tahu ya, kalau lo kerja dengan keterpaksaan, sama aja kaya ngelacur bo ! (mak…istilahnya). Bener, percaya deh sama gue. Tapi kalau dengan cinta, kalaupun capek, tinggal dibawa tidur, ilang deh, tapi hati kan tetap hepi.”

Obrolan selanjutnya adalah tentang bagaimana ‘cihuuinya’ dia merintis bisnisnya di bidang artist management dengan segala pernak perniknya.

Angkat jempol buat om yang satu ini. Melakukan pekerjaan dengan cinta….itulah kalimatnya yang akan kuingat terus. Pencerahan yang datang tiba-tiba ini merasuk ke dalam hati dan ademnya masih terasa hingga kini.


Kangen...

Hmmm, sudah beberapa bulan ya tidak mengunjungi rumah ini. Jadi kangen nih. Janjinya pas buat rumah ini, bakal rajin disambangi, bakal rajin nulis. Kenyataannya....emang susah ya untuk jadi konsisten itu.